Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Aa Text
Share:
Read Next : Kantin RS Muhammadiyah Ahmad Dahlan Kediri Terbakar, Pasien Sempat Dievakuasi
Advertisement . Scroll to see content

Kenaikan Harga Kedelai dan Material Produksi Picu Penurunan Omzet Perajin Tahu Takwa Khas Kediri

Jum'at, 24 April 2026 | 09:54 WIB
  • author Kridaning Jatmiko
Kenaikan Harga Kedelai dan Material Produksi Picu Penurunan Omzet Perajin Tahu Takwa Khas Kediri
Suasana rumah produksi tahu takwa khas Kediri. Foto : iNewsKediri.id/Jatmiko

KEDIRI, iNewsKediri.id - Industri tahu takwa khas Kediri di Kelurahan Tinalan, Kota Kediri, Jawa Timur mulai goyah akibat tren kenaikan harga kedelai yang tidak kunjung melandai. Selain dipicu meroketnya harga bahan baku utama, para pengusaha kini terhimpit kenaikan biaya operasional dan kelangkaan tenaga kerja terampil.

Marjuni, salah satu pengusaha tahu di Kelurahan Tinalan, mengungkapkan bahwa harga kedelai saat ini telah menyentuh angka Rp12.000 per kilogram. Padahal, dalam kondisi normal, harga kedelai hanya berkisar di angka Rp9.000 per kilogram.

"Harga kedelai merangkak naik sejak sebelum Lebaran. Imbasnya, harga tahu kuning terpaksa saya naikkan menjadi Rp30.000 dari harga awal Rp28.000 per sepuluh biji," ujar Marjuni saat ditemui di rumah produksinya.

Berdasarkan pantauan di lapangan, kenaikan harga tidak hanya terjadi pada kedelai. Marjuni mengaku harus merogoh kocek lebih dalam untuk membeli material pendukung seperti besek bambu dan kayu bakar untuk proses pengukusan yang turut mengalami kenaikan harga.

Selain masalah materi, sektor industri ini juga menghadapi kendala non-teknis, yakni sulitnya mencari tenaga kerja yang memiliki keahlian khusus. Menurut Marjuni, proses regenerasi pekerja terhambat karena pembuatan tahu memerlukan ketelatenan dan skill tertentu agar rasa serta tekstur tetap konsisten.

Meski biaya produksi membengkak, Marjuni tetap mempertahankan kapasitas produksi harian demi menjaga stok pelanggan, 500 biji perhari untuk Tahu Putih, dan 150-200 biji perhari untuk Tahu Kuning atau tahu takwa.

Namun, langkah ini berdampak pada sisi pendapatan. Marjuni mengaku mengalami penurunan omzet hingga 20 persen akibat daya beli masyarakat yang melemah pasca penyesuaian harga jual produk.

Para perajin tahu di Kediri kini berharap pemerintah segera mengambil langkah nyata untuk menstabilkan harga komoditas di pasar.

"Harapan saya sederhana, semoga harga bahan baku bisa turun kembali. Kalau biaya produksi rendah, keuntungan bisa lebih banyak dan bisa kami gunakan untuk meng-cover kebutuhan operasional lainnya," pungkas Marjuni.

Editor: Agung K Jatmiko

Related News

Latest News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut