Jejak Sang Senopati di Kediri: Rahasia Lafaz Lillah di Masjid Baiturrahman
KEDIRI, iNewsKediri.id - Di tengah ketenangan Desa Tambakrejo, Kecamatan Gurah, Kabupaten Kediri, Jawa Timur, berdiri sebuah bangunan yang lebih dari sekadar tempat sujud. Masjid Baiturrahman bukan hanya deretan bata dan kayu, ia adalah saksi bisu dari pelarian heroik seorang prajurit Pangeran Diponegoro yang bertransformasi menjadi penyebar cahaya Islam di timur Kediri.
Kisah masjid ini bermula sekitar tahun 1830-an. Pasca penangkapan Pangeran Diponegoro oleh kolonial Belanda, para pengikutnya berpencar demi menyelamatkan diri. Salah satunya adalah Kiai Abdurrahman, seorang senopati tangguh yang memilih menanggalkan pedang dan menetap di pedalaman Kediri.
"Masjid ini dibangun oleh kakek buyut saya pada tahun 1800-an. Saat perjuangan Pangeran Diponegoro meredup, Kiai Abdurrahman sampai di sini dan mendirikan masjid untuk berdakwah," kenang Kiai Zaini Thoyyib, pengasuh masjid sekaligus generasi keempat sang pendiri, Selasa (3/3/2026).
Melangkah masuk ke dalam masjid, pengunjung akan disambut oleh keunikan yang jarang ditemui di tempat lain. Hampir di setiap jengkal bangunan mulai dari dinding, pintu, mimbar, tiang penyangga, hingga kayu usuk penopang atap terdapat ornamen melingkar bertuliskan lafaz “Lillah”.

Bagi Kiai Zaini, ukiran tersebut bukanlah sekadar dekorasi estetis. Lafaz itu merupakan manifestasi ajaran Tarekat Naqsyabandiyah yang diwariskan kakek buyutnya.
"Lafaz ini mengingatkan bahwa setiap ibadah harus dilakukan tanpa pamrih, semata-mata karena Allah atau Lillahita'ala. Jemaah diharapkan selalu membawa niat itu dalam setiap sujudnya," jelasnya dengan teduh.
Meski usianya telah mencapai dua abad, Masjid Baiturrahman tetap berdiri kokoh. Struktur utamanya masih mempertahankan keaslian kayu dan tata letak masa lampau. Sentuhan modernitas hanya terlihat tipis pada penggantian ubin dan atap yang sempat direnovasi pada dekade 80-an.
Hingga hari ini, setiap ukiran "Lillah" di masjid tersebut terus berbisik kepada siapa saja yang datang. Ia menjadi pengingat abadi bahwa di balik megahnya sejarah perjuangan bangsa, ada nilai spiritualitas yang harus tetap dijaga: bahwa segala sesuatu bermula dan berakhir hanya karena-Nya.
Editor : Agung K Jatmiko