get app
inews
Aa Text
Read Next : Halaqah RMI PBNU di Kediri Telurkan 5 Rekomendasi Cegah Kekerasan di Pesantren

Munas NU 2026: RMI dan Lakpesdam PBNU Desak Pesantren Ramah Anak dan Bebas Kekerasan

Senin, 22 Juni 2026 | 12:33 WIB
header img
Halaqah Pengasuh Pesantren di Pondok Pesantren Al Falah II. Foto : iNewsKediri.id/Ist.

KEDIRI, iNewsKediri.id - Rabithah Ma'ahid Islamiyah (RMI) bersama Lakpesdam PBNU mendorong penguatan komitmen menciptakan lingkungan pesantren yang aman, ramah anak, dan bebas dari kekerasan. Isu perlindungan santri ini menjadi salah satu sorotan utama dalam Musyawarah Nasional (Munas) Alim Ulama dan Konferensi Besar (Konbes) Nahdlatul Ulama 2026 yang digelar di Pondok Pesantren Al Falah Ploso, Mojo, Kabupaten Kediri.

Komitmen tersebut dipertajam melalui Halaqah Pengasuh Pesantren di Pondok Pesantren Al Falah II pada 20-21 Juni 2026. Forum ini dihadiri oleh pengurus RMI PWNU Jawa Timur, PCNU se-Jawa Timur, para pengasuh pesantren, aktivis pendidikan, serta kalangan media.

Sekretaris RMI PBNU, Ulun Nuha (Gus Ulun), mengungkapkan bahwa pesantren saat ini menghadapi tiga tantangan besar yang kompleks di tengah meningkatnya perhatian masyarakat terhadap kasus kekerasan di lembaga pendidikan.

"Tantangan pesantren hari ini ada tiga. Pertama kasus yang bertambah, kedua paparan media yang semakin masif, dan ketiga masyarakat yang semakin tidak sabar menunggu proses hukum," ujar Gus Ulun, Minggu (22/6/2026).

Gus Ulun menegaskan, penanganan kasus kekerasan harus selalu mengutamakan perspektif perlindungan korban. Menurutnya, hak anak untuk mendapatkan perlindungan dan keadilan tidak boleh dikesampingkan, sekecil apa pun jumlah kasusnya.

Di sisi lain, forum ini juga menyoroti pentingnya peran media digital. Arus informasi yang cepat di media sosial dinilai sering kali memicu opini publik yang tidak utuh sebelum proses hukum selesai.

Menanggapi sorotan publik, Koordinator Nawaning Nusantara sekaligus Pengasuh Pondok Pesantren Khairul Ummah Malang, Nuvis Rizqid Diiny El Ulya (Ning Nuvis), mengajak dunia pesantren untuk tidak antikritik. Berdasarkan pendampingannya di lebih dari 100 pesantren, ia menilai kritik publik harus dijadikan momentum evaluasi sistem pengasuhan.

"Kita jangan hanya melihat berita sebagai serangan terhadap pesantren. Kita juga harus menjadikannya bahan refleksi untuk memperbaiki sistem yang ada," kata Ning Nuvis.

Sementara itu, Ketua Lakpesdam PBNU, Ufi Ulfiyah, menjelaskan bahwa PBNU tengah menjalankan program Transformasi Pesantren yang berfokus pada tiga aspek, yakni Penguatan kurikulum, sistem kepengasuhan dan peningkatan kualitas SDM

Namun, Ufi menggarisbawahi bahwa transformasi ini tidak akan menyeragamkan atau menstandarisasi semua pesantren, melainkan disesuaikan dengan kekhasan dan konteks masing-masing lembaga.

Ketua RMI PBNU, KH Hodri Ariev, menambahkan bahwa penguatan tata kelola ini krusial agar pesantren tetap menjadi lembaga pendidikan yang aman dan relevan dengan standar perlindungan anak modern. Halaqah ini diproyeksikan menjadi pijakan awal penyusunan Modul Pesantren Ramah Anak berbasis enam pilar Transformasi Pesantren yang akan diterapkan secara nasional.

Editor : Agung K Jatmiko

Follow Whatsapp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
Lihat Berita Lainnya
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut